News & Article

Hidrogeologi Cekungan Air Tanah Batujajar Dengan Pendekatan Kajian Geologi dan Isotop 18O dan 2H

Posting date: 2015-08-21 00:00:00

CAT Batujajar merupakan kawasan pertumbuhan baru di sebelah Barat Kota Metropolitan Bandung. Dalam pengembangan Kota Baru Parahyangan dan untuk mendukung kebutuhan penduduk di daerah dengan luas lebih dari 1.250 Ha memerlukan air dalam jumlah besar. Kondisi saat ini PDAM belum dapat memasok air ke kawasan ini, sedangkan air permukaan dari sungai yang mengalir di daerah ini kualitasnya tidak terjamin karena pencemaran dari limbah domestik maupun industri. Sehingga kebutuhan air hanya dapat dipenuhi dari sumber air tanah. Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi air tanah harus dijaga keseimbangannya supaya tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Maka perlu dilakukan penelitian hidrogeologi secara lebih menyeluruh untuk mengetahui bagaimana hubungan antar akifer, parameter hidrolik akifer dan penentuan daerah imbuh air tanah dengan menggunakan metoda Isotop 18O dan 2H. Dari hasil pengeboran inti yang dikorelasikan dengan data pengeboran air tanah diketahui bahwa bahwa akifer utama di daerah Kota Baru Parahyangan adalah tuf pasiran yang merupakan bagian distal dari kipas vulkanik yang dapat disebandingkan dengan Formasi Cibeureum. Rata-rata nilai keterusan (T) adalah 287 m2/hari, dan potensi debit aliran yang masuk CAT Batujajar sebesar 11,5 juta M3/tahun. Berdasarkan hasil analisis kimia air tanah menggunakan diagram Piper diketahui tipe air adalah CaHCO3 dan NaHCO3, hal ini menunjukkan bahwa air tanah dalam yang telah mengalami pertukaran ion mengalami percampuran (mixing) dengan air tanah dangkal. Dari analisis isotop diketahui bahwa air tanah yang berasal dari sumber asalnya telah mengalami percampuran dengan air permukaan. Asal usul daerah imbuhan diperkirakan berada pada elevasi antara 1040 m hingga 1137 m. Daerah imbuhan ini secara geologi diduga berada di bawah sesar Lembang yang merupakan Kipas Cimahi yang mempunyai batuan vulkaniklastik.